Pages - Menu

18 May 2017

Sebuah Petuah



Udah tahun baru ya? Wah selamat tahun baru ya (iya emang orangnya suka ngucapin tahun baru di tengah tahun). Jangan heran kalau jadi jarang nulis di blog ini (bahkan setaun kemaren cuman 2x!!!). Biasalah hidup makin kesini makin dimakan oleh kesibukan. 20% kesibukan akedemis, sisanya non akademis (re: makan, tidur, stalk cowok ganteng, dengerin lagu galau, jatuh cinta, patah hati, dan kegiatan non akademis lainnya).

Jujur, gak ada enak-enaknya jadi manusia 20+. Dulu, saya kira menjadi orang dewasa enak banget, apa-apa bisa sendiri, bebas, gak ada yang ngatur dan lain-lain (terutama sih bisa nonton film 18+, nonton konser 18+, dan 18+ lainnya). Tapi tau nggak sih? Menjadi dewasa saya rasa kok beban ya. Udah gede, punya KTP, udah mulai serius suka sama orang, tapi ujung-ujungnya masih ngemis sama orang tua. Ortu sih emang ngelarang anaknya buat cari kerja, pokoknya kuliah dulu yang bener sampe sarjanalah minimal. Nah tapi, kenyatannnya, udah saya gak kerja dan gak berpenghasilan, tapi IPK masih segitu-gitu aja. LALU APA YANG HARUS SAYA LAKUKAN!!! Tuhkan jadi kesel sama diri sendiri.

Banyak banget ternyata rintangan dalam hidup ini. Kamu mau masuk PTN bagus, harus les sana sini, habis les harus ikut SBMPTN. Iya kalo ketrima, kalo enggak? Yaudah deh anggap aja ketrima, kalau udah ketrima dan masuk PTN, trus mau apa? Nilai segitu-gitu aja, gak bisa kerja, organisasi juga jabatan masih rakyat jelata. Sering banget, stalking di IG bikin makin gondok. Ya ampun mbak ini, udah cantik dari lahir, jadi artis (gausa mikir SBMPTN lah ya minimal), cowok yang ngedeketin banyak, kaki langsing banget no selulit, duit segambreng, mobil tinggal tunjuk, temen classy-classy. Enak banget ya mbak hidup?

Wah kalo ngomongin “ketidakberuntungan” hidup bisa sampe jebol nih keyboard. Namanya juga manusia, serajin-rajinnya shalat, serajin-rajinnya ke gereja, serajin-rajinnya baca kitab suci, namanya juga terbuat daging, jadi ya hidupnya penuh kedagingan. Uang, cinta, tahta, wanita/pria, gak ada habis-habisnya buat dikejar, buat diimpikan. Normal? Tentu. Tapi akan menjadi sangat salah ketika kita hidup untuk itu.

Sebenernya, saya nggak suka konsep “lihatlah kebawahmu, maka bersyukurlah hatimu”. Yaelah enak banget ngomongnya, coba jadi orang yang paling bawah, apa yang mau dilihat? Jurang kesengsaraan dan penindasan? Ada-ada aja. Coba deh konsep-konsep komparasi itu dihilangkan. Udah gak jamannya untuk membanding-bandingkan hidup sama orang lain (entah orang itu lebih sukses dari kita atau lebih gagal dari kita). Coba focus deh ke dirimu sendiri (bukan egois ya maksudnya). Dari semua teori-teori kehidupan yang omong kosong, omong kosong yang paling saya suka adalah do your best. Okelah kamu gak suka matematika, trus kamu sukanya apa? Main musik? Oke silahkan main musik sampe di alam kubur nanti.

Maksudku disini, apa sih tujuan kita hidup? Nyenengin ortu? Yaiya pastilah. Cari uang biar kaya? Okelah mantap gapapa. Trus habis itu mau ngapain? Hidup ini tentang diri kita sendiri lho. Everyone just an illusion. Bahagiakan dirimu sendiri dengan caramu, dan cara itu cuman kamu sendiri yang tahu. Mungkin orang lain bisa kasih kamu saran dan kritikan, boleh itu diambil tapi jangan ditelan mentah-mentah.

Bingung kan daritadi saya bahas apa?

Iya, emang orang yang lagi jatuh cinta, otaknya gak sinkron.

(emang daritadi intinya cuman mau nginfoin kalimat terakhir aja)

1 August 2016

I Love You, Do You Love Me?

Baiklah jika dihitung sejak artikel terakhir, kira-kira sudah sekitar 6 bulan blog ini diabaikan. Tentu saja bukan karena tanpa perkara, hanya saja hidup saya belakangan terasa lebih berat. Tapi saya tidak pernah berhenti menulis, hanya medianya saja bukan blog. Kegiatan belakangan ini banyak menyita tenaga saya; jatuh cinta, jatuh cinta, dan jatuh. Tiga hal inilah yang menyita banyak waktu saya.

Saya memang tipe orang yang sangat-sangat-sangat-sangat mudah cinta sama orang (saya tidak suka menggunakan kata suka atau sayang atau mengagumi, karena kata cinta itu terdengar lebih berkelas. Oh ya, dan saya juga tidak peduli apa perbedaan dari istilah-istilah itu). Entah kenapa, belakangan ini, hal itu membuat saya mudah menangis. Bukan, saya bukan lagi lihat Descendant of the Sun (tapi itu juga termasuk), tapi saya jadi mudah meratapi diri saya sendiri (lebih kasar lagi: mengutuk diri saya sendiri). Pertanyaan besar langsung muncul di pikiran saya, ketika saya memutuskan untuk cinta sama seseorang: "Apakah saya pantas mendapatkan dia?" dan lucunya, pertanyaan sesedehana itu bisa membuat saya membenci diri saya sendiri.

Sejujur-jujurnya, saya orang yang bebas. Seperti quote di film mantan pacar saya (re: Freddie Highmore (re(lagi): The Art of Getting by)); "We're born alone, we die alone. Everythings else is just an illusion" yang artinya adalah saya Wahyudi. Bukan ya bukan begitu. Oke kembali ke cerita. Jadi saya memilih untuk menjadi orang yang bebas (yah, walaupun uang jajan masih ngemis ke orang tua sih). Contohnya adalah ketika saya secara diam-diam mendaftar di perguruan tinggi di luar kota, saat itu saya benar-benar dilarang untuk pergi keluar kota untuk kuliah. Tapi karena saya orangnya nggak suka diatur (untuk beberapa kasus), jadi saya lebih memilih diam-diam mendaftar dan memberitahu orang tua setelah data ter-submit, yang artinya: "nasi sudah menjadi bubur". Data yang tersubmit tidak bisa diubah. Dan kemudian Puji Tuhan, saya diberi jalan dan ditempatkan di salah satu perguruan tinggi negeri di kota Pahlawan. Saya percaya itu artinya Tuhan beri saya jalan untuk mencapai mimpi saya.

Kemudian, karena perkara "saya orang yang bebas" tersebut membuat saya orang yang benar-benar bebas. Saya tidak suka ada yang mengatur saya apalagi persoalan penampilan, perilaku, dan apa yang baik dan yang buruk bagi saya. Jadi tidaklah mengherankan selama hidup saya 19 tahun ini banyak sekali istilah-istilah negatif yang disematkan pada saya (re: demit, gembel, sapi, lutung, dan lain-lain). Tapi selama ini I can deal with that. Toh saya juga tidak terlalu peduli orang mau berbicara apa tentang saya.

Namun kemudian, saya jatuh cinta. Memang sudah lama sih tapi saya baru sadar bahwa mengapa orang-orang yang saya cinta keep pushing me away. Mereka seperti memberi garis pada saya untuk tidak mendekat kecuali untuk berteman dan bersahabat. Saya tidak keberatan, selama mereka tidak membicarakan saya di belakang (karena itu adalah hal yang paling saya benci orang lakukan kepada saya). Dan suatu hari, saya mulai berkaca. Tidak ada yang salah. Hanya saja memang saya tidak rapih dan tidak dapat dikatakan baik. Sepertinya saya harus mulai mendengarkan teguran orang tentang penampilan saya. Lalu saya mengikuti sebuah materi tentang percintaan di gereja saya. Satu kutipan yang paling mengena adalah
"Setiap orang berani jatuh cinta. Tapi tidak semuanya berani untuk 'memantaskan' diri untuk dicintai" 
Dari satu line itu saya diam. Lama. Mencoba meresapi kembali kata-katanya. Sampai saya sadar betapa lucunya saya, betapa bodohnya saya selama ini karena mudah jatuh cinta, tapi tidak mudah memperbaiki diri sendiri agar lebih pantas dicintai.

Karena setiap orang tidak hanya berhak untuk mencintai, tapi juga wajib untuk memantaskan diri.

Aprilia Widia Andini