Pages - Menu

1 August 2016

I Love You, Do You Love Me?

Baiklah jika dihitung sejak artikel terakhir, kira-kira sudah sekitar 6 bulan blog ini diabaikan. Tentu saja bukan karena tanpa perkara, hanya saja hidup saya belakangan terasa lebih berat. Tapi saya tidak pernah berhenti menulis, hanya medianya saja bukan blog. Kegiatan belakangan ini banyak menyita tenaga saya; jatuh cinta, jatuh cinta, dan jatuh. Tiga hal inilah yang menyita banyak waktu saya.

Saya memang tipe orang yang sangat-sangat-sangat-sangat mudah cinta sama orang (saya tidak suka menggunakan kata suka atau sayang atau mengagumi, karena kata cinta itu terdengar lebih berkelas. Oh ya, dan saya juga tidak peduli apa perbedaan dari istilah-istilah itu). Entah kenapa, belakangan ini, hal itu membuat saya mudah menangis. Bukan, saya bukan lagi lihat Descendant of the Sun (tapi itu juga termasuk), tapi saya jadi mudah meratapi diri saya sendiri (lebih kasar lagi: mengutuk diri saya sendiri). Pertanyaan besar langsung muncul di pikiran saya, ketika saya memutuskan untuk cinta sama seseorang: "Apakah saya pantas mendapatkan dia?" dan lucunya, pertanyaan sesedehana itu bisa membuat saya membenci diri saya sendiri.

Sejujur-jujurnya, saya orang yang bebas. Seperti quote di film mantan pacar saya (re: Freddie Highmore (re(lagi): The Art of Getting by)); "We're born alone, we die alone. Everythings else is just an illusion" yang artinya adalah saya Wahyudi. Bukan ya bukan begitu. Oke kembali ke cerita. Jadi saya memilih untuk menjadi orang yang bebas (yah, walaupun uang jajan masih ngemis ke orang tua sih). Contohnya adalah ketika saya secara diam-diam mendaftar di perguruan tinggi di luar kota, saat itu saya benar-benar dilarang untuk pergi keluar kota untuk kuliah. Tapi karena saya orangnya nggak suka diatur (untuk beberapa kasus), jadi saya lebih memilih diam-diam mendaftar dan memberitahu orang tua setelah data ter-submit, yang artinya: "nasi sudah menjadi bubur". Data yang tersubmit tidak bisa diubah. Dan kemudian Puji Tuhan, saya diberi jalan dan ditempatkan di salah satu perguruan tinggi negeri di kota Pahlawan. Saya percaya itu artinya Tuhan beri saya jalan untuk mencapai mimpi saya.

Kemudian, karena perkara "saya orang yang bebas" tersebut membuat saya orang yang benar-benar bebas. Saya tidak suka ada yang mengatur saya apalagi persoalan penampilan, perilaku, dan apa yang baik dan yang buruk bagi saya. Jadi tidaklah mengherankan selama hidup saya 19 tahun ini banyak sekali istilah-istilah negatif yang disematkan pada saya (re: demit, gembel, sapi, lutung, dan lain-lain). Tapi selama ini I can deal with that. Toh saya juga tidak terlalu peduli orang mau berbicara apa tentang saya.

Namun kemudian, saya jatuh cinta. Memang sudah lama sih tapi saya baru sadar bahwa mengapa orang-orang yang saya cinta keep pushing me away. Mereka seperti memberi garis pada saya untuk tidak mendekat kecuali untuk berteman dan bersahabat. Saya tidak keberatan, selama mereka tidak membicarakan saya di belakang (karena itu adalah hal yang paling saya benci orang lakukan kepada saya). Dan suatu hari, saya mulai berkaca. Tidak ada yang salah. Hanya saja memang saya tidak rapih dan tidak dapat dikatakan baik. Sepertinya saya harus mulai mendengarkan teguran orang tentang penampilan saya. Lalu saya mengikuti sebuah materi tentang percintaan di gereja saya. Satu kutipan yang paling mengena adalah
"Setiap orang berani jatuh cinta. Tapi tidak semuanya berani untuk 'memantaskan' diri untuk dicintai" 
Dari satu line itu saya diam. Lama. Mencoba meresapi kembali kata-katanya. Sampai saya sadar betapa lucunya saya, betapa bodohnya saya selama ini karena mudah jatuh cinta, tapi tidak mudah memperbaiki diri sendiri agar lebih pantas dicintai.

Karena setiap orang tidak hanya berhak untuk mencintai, tapi juga wajib untuk memantaskan diri.

Aprilia Widia Andini

28 January 2016

Kemarin Tidak akan Terulang

Sudah lama rasa ini terperangkap di dalam kenikmatan. Rasanya terlalu nikmat hingga disebut orang: kebodohan. Hari-hari lewat begitu saja tanpa aku tahu. Banyak hal yang lebih baik yang bisa terjadi. Hanya saja karena kebodohan yang terlalu nikmat itu, banyak yang disia-siakan. Dalam keheningan malam, bintang bahkan tak mau menatap kebawah karena beribu orang bodoh dibawah sana tetap menunggu. Menunggu seseorang yang bahkan tidak lebih baik dari dirinya, tidak lebih baik dari orangtuanya yang sudah lama ia abaikan.

Payah memang menguntai kenyataan. Senyum palsu yang diobral sudah terlalu banyak. Mungkin sudah saatnya kesedihan itu dibagikan, jangan disimpan sendiri dan dinikmati sendiri sebelum tidur malam. Sudah saatnya kamu pergi dan melepas sesuatu yang membuatmu menderita.

Pikirkan juga soal waktu. Ingatlah, kemarin tidak akan terulang.

Saatnya berhenti.