Pages - Menu

18 August 2017

The Edge of Life

Jika manusia adalah hasil produksi sebuah pabrik, maka dengan rendah hati, saya mendeklarasikan diri menjadi salah satu produk yang gagal dalam pabrik itu. Merasa gagal di umur yang sangat belia (not long time ago, i joined 20s squads), itu benar-benar sebuah tamparan besar buat saya. Apa yang sebenarnya saya rasakan? Mengapa saya menjadikan diri saya sebuah produk yang gagal?

Kehilangan motivasi. Akhir-akhir ini saya merasa sangat kosong. Entah apa penyebabnya. Padahal banyak sekali tekanan, masalah, dan tangan yang teracung didepan muka saya, tapi saya tidak merasakan apapun. Benar-benar tidak bisa beraksi seperti chlorine dengan hidrogen. Aneh. Saya pengen sekali merasa sedih ketika saya punya masalah, dapat tekanan, dan cemoohan sana-sini. Tapi sayang sekali, saya malah sedih saat lihat film yang peran utamanya akhirnya mati. Ironis.

Mungkin otak saya yang tidak bisa mengizinkan masuk hal-hal yang diluar keinginan saya. Ya, saya nggak ingin ada orang lain yang mengatur hormon sedih-senang-kecewa-bahagia saya selain diri saya sendiri. Saya gamau kebahagiaan saya diatur oleh orang lain, saya gamau kalau saya nangis gara-gara sakit hati karena perkataan orang lain. Dan pada akhirnya saya menjadi seseorang yang bisa dibilang sangat-sangat-sangat tidak peduli.

Menjadi tidak peduli itu sebenarnya menyakiti harga diri saya. Lantas untuk apa hidup ketika kamu hidup untuk diri kamu sendiri? Toh juga tidak ada gunanya kamu mau hidup atau mati. Matipun bukan hal yang sia-sia karena tidak akan ada orang yang merasakan kehadiranmu. Bicara hidup dan mati, emang makin bikin absurd.

Kamu tau nggak bagaimana caranya punya motivasi? Karena saya sudah kehilangan dirinya beberapa saat yang lalu. Saya masih ingat ketika liburan karena terlalu banyak waktu luang, saya mulai menyukai segala hal mengenai negeri Korea. Mulai dari boyband, girlband, dan dramanya. Semuanya. Dari sana, saya mulai kehilangan motivasi hidup, entah kenapa. Kadang saya juga berpikir, mengapa mereka begitu beruntung, menjalani apa yang mereka suka (re: dance, akting, nyanyi) dan apakah suatu saat di masa depan nanti, saya akan bisa menggapai apa yang selama ini saya ingini?

Jika ditapaki satu persatu, kehidupan saya makin lama kok makin melenceng dari apa yang saya impikan. Kau tau ketika kamu kehilangan arah di GPS, kau nggak tahu harus kemana, akhirnya carilah jalan ngawur yang terlihat mudah dan menyenangkan. Ketika GPS itu nyala kembali, kau menemukan dirimu sangat-sangat jauh dari tujuan awalmu. Namun karena waktu sudah terlewat begitu jauh, dan untuk kembali ke jalan yang benar harus menghabiskan waktu lagi, maka satu-satunya hal yang harus kau lakukan adalah mengubah targetmu dan mengikuti jalan yang sudah kau pilih. Karena kau sudah salah jalan dan tidak mau kembali, kau jadi nggak tahu apa yang kau tuju. Kau merasa kosong. Nah begitulah kronologis ceritanya.

Hal yang sangat membuat saya terpuruk adalah orang-orang disekitar saya sangat percaya pada kemampuan saya. Saya juga baru tahu, menjadi kepercayaan ternyata seberat ini, setidaknyaman ini. Makanya saya suka banget sama lagu yang liriknya gini, "Let me go. I dont wanna be your hero.". Bener-bener deh saya pengen banget kasih tahu orang-orang kalo I just a girl with thousand things to do, and I dont want to be responsibility to anything that not relate with my thought. Memang kadang, menjadi kepercayaan adalah sebuah pride. But you know, pride is hurt sometimes, it changes you to be not-you.

Halah, basa-basi. Intinya sekarang, saya lagi hilang motivasi. Hilang arah dan tujuan. Dan pertanyaan bagaimana-bagaimana-bagaimana-masa-depan-saya benar-benar menghantui saya dan bikin saya sedih tanpa sebab.

And maybe

Just maybe

Someone will come to me

and he may say

"can I become your life-sucks motivation?"

Aprilia Widia Andini
classy women

18 May 2017

Sebuah Petuah



Udah tahun baru ya? Wah selamat tahun baru ya (iya emang orangnya suka ngucapin tahun baru di tengah tahun). Jangan heran kalau jadi jarang nulis di blog ini (bahkan setaun kemaren cuman 2x!!!). Biasalah hidup makin kesini makin dimakan oleh kesibukan. 20% kesibukan akedemis, sisanya non akademis (re: makan, tidur, stalk cowok ganteng, dengerin lagu galau, jatuh cinta, patah hati, dan kegiatan non akademis lainnya).

Jujur, gak ada enak-enaknya jadi manusia 20+. Dulu, saya kira menjadi orang dewasa enak banget, apa-apa bisa sendiri, bebas, gak ada yang ngatur dan lain-lain (terutama sih bisa nonton film 18+, nonton konser 18+, dan 18+ lainnya). Tapi tau nggak sih? Menjadi dewasa saya rasa kok beban ya. Udah gede, punya KTP, udah mulai serius suka sama orang, tapi ujung-ujungnya masih ngemis sama orang tua. Ortu sih emang ngelarang anaknya buat cari kerja, pokoknya kuliah dulu yang bener sampe sarjanalah minimal. Nah tapi, kenyatannnya, udah saya gak kerja dan gak berpenghasilan, tapi IPK masih segitu-gitu aja. LALU APA YANG HARUS SAYA LAKUKAN!!! Tuhkan jadi kesel sama diri sendiri.

Banyak banget ternyata rintangan dalam hidup ini. Kamu mau masuk PTN bagus, harus les sana sini, habis les harus ikut SBMPTN. Iya kalo ketrima, kalo enggak? Yaudah deh anggap aja ketrima, kalau udah ketrima dan masuk PTN, trus mau apa? Nilai segitu-gitu aja, gak bisa kerja, organisasi juga jabatan masih rakyat jelata. Sering banget, stalking di IG bikin makin gondok. Ya ampun mbak ini, udah cantik dari lahir, jadi artis (gausa mikir SBMPTN lah ya minimal), cowok yang ngedeketin banyak, kaki langsing banget no selulit, duit segambreng, mobil tinggal tunjuk, temen classy-classy. Enak banget ya mbak hidup?

Wah kalo ngomongin “ketidakberuntungan” hidup bisa sampe jebol nih keyboard. Namanya juga manusia, serajin-rajinnya shalat, serajin-rajinnya ke gereja, serajin-rajinnya baca kitab suci, namanya juga terbuat daging, jadi ya hidupnya penuh kedagingan. Uang, cinta, tahta, wanita/pria, gak ada habis-habisnya buat dikejar, buat diimpikan. Normal? Tentu. Tapi akan menjadi sangat salah ketika kita hidup untuk itu.

Sebenernya, saya nggak suka konsep “lihatlah kebawahmu, maka bersyukurlah hatimu”. Yaelah enak banget ngomongnya, coba jadi orang yang paling bawah, apa yang mau dilihat? Jurang kesengsaraan dan penindasan? Ada-ada aja. Coba deh konsep-konsep komparasi itu dihilangkan. Udah gak jamannya untuk membanding-bandingkan hidup sama orang lain (entah orang itu lebih sukses dari kita atau lebih gagal dari kita). Coba focus deh ke dirimu sendiri (bukan egois ya maksudnya). Dari semua teori-teori kehidupan yang omong kosong, omong kosong yang paling saya suka adalah do your best. Okelah kamu gak suka matematika, trus kamu sukanya apa? Main musik? Oke silahkan main musik sampe di alam kubur nanti.

Maksudku disini, apa sih tujuan kita hidup? Nyenengin ortu? Yaiya pastilah. Cari uang biar kaya? Okelah mantap gapapa. Trus habis itu mau ngapain? Hidup ini tentang diri kita sendiri lho. Everyone just an illusion. Bahagiakan dirimu sendiri dengan caramu, dan cara itu cuman kamu sendiri yang tahu. Mungkin orang lain bisa kasih kamu saran dan kritikan, boleh itu diambil tapi jangan ditelan mentah-mentah.

Bingung kan daritadi saya bahas apa?

Iya, emang orang yang lagi jatuh cinta, otaknya gak sinkron.

(emang daritadi intinya cuman mau nginfoin kalimat terakhir aja)