Aku bukan tipikal manusia yang menaruhmu pada lagu dan tempat. Kamu ada di setiap lagu dan di setiap tempat. Bahkan warung makanan dekat kediamanku saja ada kamu di dalamnya. Bayangkan penderitaan itu jika aku menaruhmu pada tempat, aku jadinya harus memilih antara kelaparan atau kerinduan. Tapi, aman. Aku tidak menaruhmu di sana. Juga pada lagu yang kita dengarkan dan kita nyanyikan bersama, aku merasa tetap tenang. Tidak ada memori yang mengusikku saat nada-nada itu masuk ke telingaku. Aku tidak panik, mungkin ya aku pasti teringat kamu, tapi hatiku tenang dan tidak meraung-raung.
Kamu tahu, aku mulai lelah bersikap tangguh di depan semua orang. Semua rasa sesak itu, rasanya sudah sangat familiar. Mengatur kembali irama detak jantungku, saat namamu mirip dengan karakter pada film yang aku lihat atau mungkin kepada teman-teman yang tidak tahu dan terus menerus membahasmu. Aku sudah terlatih mati rasa. Mungkin saat ini, pikirku, itu adalah jalan terbaik. Tidak semua orang harus tahu keadaanku, bahwa semakin kita dewasa, kita akan menyadari setiap orang memiliki masalahnya masing-masing. Jadi tidak lucu kan, kalau aku menyelipkan cerita kepergiaanmu di sela-sela masalah parenting atau masalah ranjang yang diceritakan teman-temanku. Ah, mereka selalu bilang “kamu tidak terlambat” tapi rasanya aku selalu berada di barisan belakang; memperhatikan punggung mereka.
Kamu tahu yang lebih menyakitkan dari semuanya adalah bahwa keberakhiran kita disebabkan karena aku mulai lelah karena dianggap tidak pernah cukup untuk mengusahakanmu. Aku tahu kita akan berdebat panjang saat aku mulai menjelaskan diriku, sebagaimana kamu menjelaskan dirimu. Aku tahu sebagaimana aku tidak memahami sudut pandangmu, aku juga merasa sepanjang apapun penjelasanku, tidak cukup membuatmu lega. Tapi satu hal yang aku tahu bahwa, aku sudah sangat mengusahakanmu di setiap hal-hal yang bahkan kata orang tidak seharusnya kulakukan.
Banyak sekali rindu yang berangkat dari rasa terima kasih dan permohonan maafku. Sampai detik ini pun aku berusaha baik-baik saja. Aku masih menjalani kehidupan dengan tenang; tidak mengusikmu karena aku takut apapun yang kulakukan akan melukaimu. Namun terima kasih atas semua kebaikanmu yang kurasakan meskipun tidak selalu (seperti mungkin kamu rasa juga tentang aku). Namun aku tetap bersyukur berkenalan dan dekat denganmu untuk waktu yang cukup lama. Dan maaf...
Atas semua kekuranganku dan kelemahanku. Atas perilakuku yang tidak menyenangkan hatimu. Atas ketidaktahuanku atas harapanmu. Maka, bahagialah. Bertemulah dengan segala doa-doamu yang selalu kau panjatkan. Bertemulah dengan keinginanmu yang selalu kau ceritakan dengan berbinar. Bersatulah dengan seseorang yang ingin kamu perjuangankan. Mari kita hidup dengan baik di kehidupan saat ini. Mari kita menjadi manusia yang lebih baik dari diri kita kemarin. Aku tidak sabar mendengar kabar baik dari kamu yang ditiupkan angin atau dititipkan pada merpati. Segeralah