Juli Agustus

Ketika kamu merasa kesialan mengikuti, maka ia benar-benar mengikuti.

Berawal dari membeli sayur mentah di pasar sepulang kerja, tapi karena nyatolnya nggak bener jadinya satu kresek jatuh di jalan. Untung bombay mungil seharga 3000 itu gak jadi masuk got karna aku keburu menahannya pakai tangan. Ku cek lagi isi kresek itu, ah sial, lombok merah besarnya gak ada. Padahal sehabis bayar, aku agak senang karena udah bayangin masak cah brokoli + lombok merah supaya secara tampilan agak fun gitu. Ya gapapa lah gausah fun-fun banget, ntar juga jadi kotoran di wc, pikirku menghibur.

Aku memang niat makan sayur karena aku sudah menyisakan nasi, daging suwir, dan ayam dari makan siang gratis yang kudapatkan dari kantor. Jadi rasanya kurang kalau nggak ada sayurnya. Dan kupikir dengan bekal 14ribu, aku bisa makan cah brokoli tahu dua kali, malam ini dan besok pagi sebelum berangkat kerja.

Setelah repot masak ini itu, jadilah cah brokoli dengan tahu yang hancur itu. Sial sekali ternyata beli teflon anti lengket, tapi tetep lengket. Alhasil, tahunya gak bentuk kotak-kotak tapi bentuk pasir curah. Tapi lagi-lagi aku mencoba menenangkan diri dengan ah masih bisa dimakan meskipun dari segi tampilan sudah jauh dari bayangan: tak ada lombok dan tahu yang tidak berbentuk.

Akhirnya aku makan malam. Kubuka sisa makan siangku, syit, ayamnya sedikit bau ternyata. Tapi yasudah kumakan saja, daripada dibuang sayang. Sepertinya juga nggak busuk, hanya kurang segar aja karena mungkin sudah dimasak dari pagi (pas siang makan nggak bau sih tapi). Ya gak sebau tai kucing, tapi tetap bau tipis sekali. Ah, tinggal makan doang banyak protes, batinku dalam hati.

Saat makan, aku sambil main hp. Gak lama ada 2 chat dari 2 orang dekatku. Satu bapak dan satu kakakku. Chat mereka sangat harmless tapi entah kenapa tenggorokanku jadi sangat tercekat. Ah, taukan nangis sesenggukkan pas makan tuh gak enak banget. Tapi lagi-lagi aku coba menenangkan diri sendiri. Ya mau ditenangin orang lain juga agak serem sebab di kamarku memang hanya ada aku sendiri.

Yang satu minta dibayarin makan di mall, yang satu mau pinjam uang padahal aku habis transfer ke rekening beliau nominal yang tidak sedikit. Ah syit. Bau ayam sisa ini makin menjadi-jadi, edan. Bahkan kunyahan ayam di mulutku ini membuatku muak. Ah apalagi penampilan brokoli tahu hancur ini, makin bikin sesak di dada.

Tentu semua orang baik kepadaku. Terlebih keluargaku. Mungkin memang aku adalah adik perempuan yang brengsek dan anak yang kurang ajar, tapi aku rasa aku tidak punya tanggung jawab memenuhi kebutuhan mereka. Merekalah yang seharusnya memenuhi kebutuhanku dan melarangku makan ayam bau ini.

Memang berkatku banyak, mungkin memang aku terlalu pelit kepada diriku sendiri dengan membiarkan mulutku mengunyah ayam sisa itu. Tapi kadang ingin sekali merasakan peran sebagai adik perempuan dan anak perempuan yang belum menikah. Mungkin aku berlebihan, mungkin besok aku datang bulan. Mereka tidak jahat, aku saja yang salah karena berharap menerima sesuatu dari mereka.

Semoga esok bulan itu beneran datang, supaya aku tahu bahwa aku hanya berlebihan karena hormon.