Lilin Natal Kala Itu yang Hanya Sebentar

Kaki-kaki kecil itu bergerak ke sana ke mari kegirangan menyambut lonceng natal yang berdentang bersaut-sautan. Orang-orang dewasa kewalahan mengejar anak-anak mereka agar tidak merusak hiasan natal yang sudah terpasang rapih di sudut ruangan. Para tamu berdatangan, bersalaman, saling bertanya kabar padahal jarak rumah yang hanya beberapa langkah. Kurcaci-kurcaci tampak tak tenang karena sudah 1 menit mereka duduk diam. Kaki mereka mulai berisik memukul-mukul keramik di bawahnya. Dengan satu teriakan, layaknya pistol tanda mulai pertandingan, mereka kembali berlari dengan langkah yang tak panjang. Para jenderal hanya menghela nafas panjang dan mulai menyerah untuk menyuruh mereka diam.


Suasana natal itu tampak familiar hingga dipercaya sebagai suasana natal yang seharusnya. Membuat hati kita bergemeruh tatkala Desember datang. Membuat diri kita sibuk mempersiapkan ini itu untuk menciptakan suasana natal yang familiar itu. Membuat lilin natal menyala dan menghangatkan sekitar kita sambil diiringi berbagai doa dan nyanyian "Kelahiran Sang Juru Selamat"


Seorang kurcaci tampak tak sabar menanti suasana natal itu tiba. Kakinya dihentak-hentakkan ke keramik, mengatur nafasnya yang mulai memburu karena tak sabar berlarian ke sana kemari. Hingga lilin mati, tak ada kegembiraan yang ia nanti. Ia tampak tak mengenali suasana natal yang begitu tenang tanpa ada orang-orang yang dinantinya.


Tak ada ucapan dari orang yang paling dia pedulikan, tak ada acara lari-larian dengan kurcaci lainnya di bawah pohon natal, tak ada acara menarik hiasan pohon natal yang sudah disiapkan orang tua, yang ada hanyalah nyala lilin natal yang hanya sebentar. Cukup hangat, namun terasa ada yang kurang pada natal kala itu.