Kamar menggelap, dan harapan itu semakin terasa tak nyata. Kumpulan kisah sialan yang buru-buru aku sembunyikan karena takut orang mengasihani, malah meledak bak bom waktu di bawah selimutku yang menghangat. Aku semakin penasaran, bagaimana otak manusia bekerja? Mengapa ia tidak menutup pikiran buruk dengan pikiran baik sesegera mungkin sebelum air mata itu mengalir membasahi bantal kapuk kecintaanku ini. Mengapa kesedihan itu makin menjadi-jadi bukannya makin surut. Apakah karna ia tidak mau sendiri, sehingga memanggil teman-temannya agar semakin semarak dan meriah. Satu, dua, kemudian seribu dua puluh empat jumlahnya.
Berisik sekali. Suara AC lawas yang mendengung beradu dengan nafasku yang semakin tersendat-sendat seperti mencari oksigen di lapisan udara yang sangat tipis. Kadang aku takut Tuhan tak ada (maka siapa yang mendengar tangisanku malam-malam), kadang aku takut Tuhan ada tapi capek dengan tingkahku (karena aku banyak melakukan kesalahan). Tapi sering kali, aku hanya takut aku tidak kemana-mana.
Aku masih melukai, masih terluka, masih mengecewakan, dan masih dikecewakan. Setiap tahun aku berlutut, memohon ampun atas kesalahanku, atas sakit hati, dan memori buruk baru yang kuciptakan dengan sengaja. Enam tahun, lima tahun, empat tahun, tiga tahun lalu, dan kini aku masih berada di posisi yang sama; berlutut dan mengerang seperti orang kesakitan (atau memang sedang sakit?). Lalu bagaimana jika lima tahun, empat tahun, tiga tahun ke depan aku masih dalam erangan yang sama; untuk meminta tolong melepaskan beban ini.
"Tenang, itu akan berakhir"
"Ya, semua luka akan sembuh dan terobati"
"Bukan itu"
"Lalu?"
"Kehidupan"
Bangun, berkehidupan dengan baik, tidur, hingga kamu usai. Kataku menenangkan diri dengan pipi lengket dan mata sembab itu. Lalu terlelaplah aku dalam bunga tidurku yang panjang dan menenangkan.
No comments:
Post a Comment